Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan

Dapatkan informasi lebih lanjut tentang maskapai nasional kebanggaan Indonesia
Newsletter

Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan

Earth Hour 2012 Garuda Indonesia Group

Perubahan iklim dan pemanasan global merupakan salah satu potensi ancaman kehidupan di bumi yang paling signifikan. Perubahan pada pola cuaca, pasokan air, pertumbuhan musiman untuk tanaman; kenaikan permukaan air laut; dan kebakaran hutan merupakan beberapa dampak dari perubahan iklim yang sudah kita rasakan belakangan ini dan dipastikan mempengaruhi lingkungan hidup yang ada di sekitar kita. Ketergantungan manusia kepada listrik dari masa ke masa semakin meningkat, sementara mayoritas pembangkit listrik berbahan bakar fosil (minyak bumi, batu bara, dan gas alam) yang mengeluarkan gas rumah kaca (GRK) berupa karbon dioksida (CO2). Hal ini jelas berakibat langsung terhadap kenaikan dramatis suhu rata-rata Bumi.

Earth Hour adalah salah satu kampanye energi terbesar didunia, yang diusung oleh WWF, berupa inisiatif global yang mengajak berbagai elemen masyarakat seluruh dunia, organisasi, pusat pemerintahan, maupun individu untuk melakukan aksi kecil untuk perubahan besar yaitu dengan mematikan lampu dan peralatan elektronik yang sedang tidak dipakai selama 1 jam mulai pukul 20.30 – 21.30 (waktu setempat). Kegiatan ini dilakukan setiap tahun, tepatnya setiap hari Sabtu di minggu ke-3 bulan Maret. Tahun ini merupakan kali keempat Indonesia turut berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan Earth Hour, yang jatuh pada hari Sabtu, 31 Maret 2012. Keberhasilan kampanye ini sangat penting dan diharapkan dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat di seluruh dunia mengingat pentingnya kesadaran dan aksi secara massal dalam berperilaku hemat energi sebagai salah satu upaya mengurangi dampak perubahan iklim yang dapat membantu mengubah kehidupan di Bumi menjadi lebih baik.

Tahun 2012 merupakan tahun keempat kalinya Garuda Indonesia turut berpartisipasi dalam program Earth Hour. Melihat perjalanan kampanye Earth Hour dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2012, masing-masing memiliki tema yang berbeda, yakni:

  1. Earth Hour 2009  merupakan bukti kepedulian Garuda Indonesia terhadap lingkungan dalam upaya menyelamatkan bumi dengan mereduksi dampak negatif emisi yang turut berkontribusi terhadap pemanasan global untuk berpartisipasi dalam tema Earth Hour 2009 yaitu “Pilih Bumi Selamat atau bumi sekarat”.  
  2. Komitmen Garuda Indonesia dalam pengelolaan lingkungan hidup dilanjutkan melalui partisipasi Garuda Indonesia pada Earth Hour 2010, yang turut memberi citra positif dalam rangka memberikan contoh kepada publik bahwa hemat energi itu sederhana dan mudah, yaitu dengan “kita dapat mengubah dunia dalam 1 jam matikan lampu”. 
  3. Kampanye Earth Hour 2011 mengingatkan semua orang bahwa bergaya hidup hemat energi tidak cukup hanya dengan berpartisipasi di Earth Hour saja, tetapi aksi kecil ini harus terus dibuktikan setiap hari secara efektif mengurangi gas rumah kaca, dan diikuti dengan mengubah gaya hidup yang lebih ramah lingkungan sesuai dengan tema “Setelah satu jam, jadikan gaya hidup”.

 

Tema “Ini Aksiku,mana Aksimu?” dibuktikan Garuda Indonesia dengan pencapaian target penghematan energi listrik  sebesar 3.119.328 watt, melebihi target yang telah ditentukan yaitu 3.000.000 watt. Pencapaian ini akan diteruskan Manajemen untuk merealisasikan tantangan yang dijanjikan untuk perlindungan lingkungan lebih lanjut yaitu membuat jalur pejalan kaki (pedestrian walk) dan lubang resapan biopori di area perkantoran Garuda City Centre Cengkareng.

 

Reforestasi Taman Nasional Sebangau
Kerjasama Garuda Indonesia dan WWF-Indonesia 2008-2012

Hutan rawa gambut Taman Nasional Sebangau merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang terletak di Propinsi Kalimantan Tengah. Terletak pada koordinat 113o 18’ - 114 o 03’ BT dan 01 o 55’ – 03 o 07’ LS, Taman Nasional Sebangau merupakan habitat orangutan terbesar di dunia, dengan luas area mencapai + 570.000 Ha. Secara administratif, kawasan ini termasuk ke dalam bagian dari Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kotamadya Palangkaraya. Kawasan ini merupakan tipe ekosistem hutan rawa gambut yang umumnya hanya menerima air dari curah hujan dan sangat miskin akan unsur hara dengan kandungan bahan organik yang kurang dari 65%. Warna air di Sungai Sebangau ini coklat kehitaman karena hasil dari pelapukan bahan organik lahan di hutan rawa gambut tersebut. Pada musim kemarau, air di Sungai Sebangau mengalami penyurutan hingga 1 – 1.5 meter karena rendahnya curah hujan. Hutan rawa gambut di Taman Nasional Sebangau merupakan salah satu tipe ekosistem yang memainkan peran yang sangat penting sebagai gudang penyimpanan karbon dan pengatur siklus hidrologi yang sangat besar pengaruhnya baik lokal, regional, maupun global.

Sebelum ditetapkan menjadi kawasan yang dilindungi, kawasan Sebangau merupakan hutan produksi yang dikelola oleh beberapa HPH (Hak Pengusahaan Hutan) sebagai penghasil kayu, sehingga pembalakan liar merajalela. Taman Nasional Sebangau menjadi salah satu hutan rawa gambut yang tersisa di Propinsi Kalimantan Tengah, akibat maraknya pembalakan secara liar dan kebakaran hutan yang terjadi di era 1990 sampai 2000. Sejak ditunjuk sebagai kawasan taman nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 423/Menhut-II/2004 pada tanggal 19 Oktober 2004, berbagai upaya dilakukan untuk mengembalikan kondisi hutan tersebut seperti sediakala, melalui penanaman pohon dan perbaikan sistem hidrologi tanah. Hal ini dilakukan dengan kerjasama antara masyarakat, pemerintah, LSM dan dunia usaha.

Lahan gambut terbentuk selama ribuan tahun dari bahan-bahan vegetasi yang tidak bisa terurai, biasanya karena permukaan air yang tinggi dan kondisi rawa. Air yang merendam bahan vegetasi membatasi oksidasi biomasa, sehingga seiring waktu berubah menjadi gambut. Kedalaman gambut biasanya bervariasi antara 3 - 12 meter. Hutan rawa gambut bertindak sebagai gudang penyimpanan karbon yang sangat besar bagi bumi. Pelepasan deposit karbon ke atmosfer mengarah kepada penghancuran keberagaman ekosistem dalam skala besar, serta peningkatan pemanasan global dan perubahan iklim. Selain menyebabkan kekeringan dan banjir secara teratur, setelah kering gambut tidak bisa menyerap air lagi.

Pembangunan jaringan kanal yang dilakukan pada masa pembalakan liar, mengakibatkan pengeringan lahan gambut yang membuatnya lebih mudah diakses (pohon-pohon ditebang, kebakaran hutan). Kanal-kanal tersebut berfungsi sebagai sebagai jalan bagi perusahaan untuk mengeluarkan kayu-kayu hasil tebangan, untuk tujuan komersial. Salah satu dampak negatif dari eksploitasi lahan gambut melalui pembangunan kanal-kanal tersebut mengakibatkan kebakaran-kabakaran besar, seperti yang pernah terjadi di tahun 1997. Menurut Asian Development Bank (ADB), kebakaran besar itu menyebabkan emisi karbon tertinggi yang pernah tercatat.

Restorasi dan Rehabilitasi
Perluasan degradasi lahan gambut Indonesia, khususnya di Taman Nasional Sebangau, terjadi karena penggundulan hutan, drainase, dan kebakaran berulang yang menyebabkan pelepasan sejumlah  besar karbon tanah gambut ke atmosfer. Penurunan tingkat air tanah menyebabkan peningkatan oksidasi dan subsiden/amblesan tanah gambut. Oleh karena itu, tingkat air tanah adalah pengendalian utama terhadap emisi karbon dioksida dari lahan gambut. Pemulihan hidrologi lahan gambut merupakan cara yang dinilai paling efektif untuk mencegah oksidasi lahan gambut dan mengurangi emisi karbon dioksida. Penambatan kanal-kanal (Canal Blocking) buatan para pembalak liar merupakan kegiatan pemulihan lahan yang dilakukan untuk memperbaiki fungsi hidrologis hutan rawa gambut Taman Nasional Sebangau tersebut. Penambatan kanal bertujuan untuk mengontrol arus air yang keluar dan meningkatkan permukaan air bawah tanah (groundwater level), sehingga pada musim kemarau kelembaban tanah tetap terjaga serta kebakaran lahan dan hutan dapat dicegah. Selain itu penambatan kanal tersebut memberi manfaat kepada penduduk lokal yang berprofesi sebagai nelayan untuk mencari ikan. Penambatan kanal menciptakan prakondisi lingkungan yang baik untuk regenerasi hutan rawa gambut.

Untuk mempercepat proses vegetasi kembali, dilakukanlah program penghijauan melalui penanaman pohon. Program NEWtrees untuk Taman Nasional Sebangau mulai dikembangkan oleh WWF-Indonesia di pengujung tahun 2007. Dengan melibatkan para pemangku kepentingan, program ini diharapkan mampu membantu upaya penyelamatan hutan rawa gambut di Taman Nasional Sebangau.

Pada bulan November 2007, nota kesepahaman bersama (MoU) antara Garuda Indonesia dan WWF Indonesia dibuat dan ditandatangani oleh kedua pihak. MoU dengan nomor DS/PERJ/MOU/DZ-3225/2007 ini secara umum memuat perjanjian kerja sama antara kedua pihak dalam program “Kontribusi untuk Konservasi” dan dalam mengembangkan upaya lain terkait pelestarian lingkungan hidup. Sebagai wujud nyata, pada tahun 2008 Garuda Indonesia melakukan sekaligus mempelopori kegiatan penanaman pohon di area Tanam Nasional Sebangau untuk tingkat perusahaan. Garuda Indonesia menanam 100.000 pohon di area seluas 250 Ha yang telah mengalami kebakaran pada tahun 2004. Lokasi tepatnya adalah di Sebangau Hulu Blok I – X. Penanaman perdana dilakukan pada tanggal 15 April 2008 dan dihadiri oleh CEO & Presiden Direktur Garuda Indonesia, Direktur Eksekutif WWF-Indonesia, Wakil Gubernur Kalimantan tengah, Emil Salim, Muspida Kalimantan Tengah,dan para pejabat pusat dan daerah. Proses penanaman pohon ini dibagi menjadi dua tahap: 130 Ha pada tahap I dan 120 Ha pada tahap II. Pihak WWF Indonesia memberdayakan penduduk lokal, yang biasa disebut dengan kelompok tani, untuk melakukan penanaman pohon. Satu kelompok tani (berjumlah 6-8 orang) ditugaskan untuk mengerjakan satu blok seluas 25 Ha. Kegiatan penanaman selesai pada bulan Desember 2008 dengan tiga jenis pohon yang ditanam, yaitu: Belangeran (Shore belangeran), Jelutung (Dyera lowii), dan Pulai (Alstonia sp).

Pada kunjungan terakhir yang dilakukan tim pengamat dari Garuda Indonesia pada tanggal 15 Juli 2012, pohon Jelutung (Dyera Lowii) yang ditanam oleh CEO & Presiden Direktur Garuda Indonesia, Emirsyah Satar pada empat tahun lalu, mengalami pertumbuhan fisik sepanjang ± 100 cm. Saat ini ketinggian pohon mencapai ± 140 cm. Akan tetapi jika dibandingkan dengan tanaman Belarengan (Shorea Belangeran) dan Pulai (Alstonia sp) yang seusianya, Jelutung memiliki pertumbuhan yang lebih lambat.

Gap