loader-looploader-loop
Memproses Permintaan AndaTerima kasih sudah menunggu.Mohon untuk tidak menutup atau memuat ulang halaman ini.

untuk mengaktifikan message tambah addClass active-message_header pada div alert-message

Laksanakan Program “Quick Wins”, Garuda Indonesia Catat Pertumbuhan Positif di Awal Tahun 2015

Keberhasilan Garuda Indonesia menjadi “global player” melalui program “Quantum Leap” merupakan fondasi kuat bagi pengembangan perusahaan ke depan.

Sejalan dengan dilaksanakannya program “Quick Wins” sebagai bagian dari strategi pengembangan perusahaan ke depan, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (IDX: GIAA) berhasil mencatatkan pertumbuhan positif sepanjang awal tahun 2015. Pertumbuhan positif tersebut ditopang oleh meningkatnya kinerja Perseroan pada periode bulan Januari dan Februari 2015.

Pada periode Januari 2015, Garuda Indonesia mengangkut 1,87 juta penumpang, tumbuh sebesar 15,1 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2014, sebanyak 1,63 juta penumpang. Sementara itu pada bulan Februari 2015 jumlah penumpang yang diangkut mencapai 1,72 juta penumpang, meningkat 10,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2014, sebesar 1,55 juta penumpang.

Perusahaan juga mencatatkan pertumbuhan kapasitas produksi (availability seat kilometer/ASK) sebesar 9,5 persen, dari 3,6 miliar pada Januari 2014 menjadi 3,93 miliar pada Januari 2015, dan sebesar 6,5 persen, dari 3,15 miliar pada Februari 2014 menjadi 3,36 miliar pada Februari 2015. Tingkat isian penumpang (seat load factor) sepanjang dua bulan pertama tahun 2015 juga meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu menjadi 73 persen pada Januari 2015 dari 66 persen pada Januari 2014, dan menjadi 74,37 persen pada Februari 2015 dari 68,6 persen pada Februari 2014.

Seiring dengan meningkatnya jumlah penumpang dan kapasitas produksi, pada Januari 2015 perusahaan berhasil membukukan pendapatan sebesar USD 269,8 juta, tumbuh sebesar 19,3 persen dibandingkan periode Januari 2014 sebesar USD 226,1 juta. Pada bulan Februari 2015, Garuda Indonesia membukukan pendapatan sebesar USD 233,8 juta, atau meningkat 13,6 persen dibandingkan bulan Februari 2014 sebesar USD 205,9 juta.

Pada bulan Januari 2015, Perseroan membukukan net income sebesar negatif USD 2,8 juta, menurun secara signifikan dibandingkan periode Januari 2014 sebesar negatif USD 73,7 juta. Sedangkan pada bulan Februari 2015, Garuda Indonesia telah berhasil membukukan keuntungan sebesar USD 1,2 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mengalami kerugian sebesar USD 77,4 juta.

Direktur Utama Garuda Indonesia M. Arif Wibowo mengatakan, membaiknya kinerja Perseroan sepanjang awal tahun 2015 tersebut tidak terlepas dari keberhasilan Garuda melaksanakan program “Quantum Leap” yang menjadikan perusahaan sebagai “global player” dengan predikat Maskapai Bintang Lima (5-Star Airline) dan menempati peringkat ketujuh dalam daftar “The World’s Best Airline”.

Berbagai pencapaian Garuda Indonesia dalam 10 tahun terakhir tersebut menjadi modal utama perusahaan untuk dapat bersaing di level international khususnya di tengah kondisi ekonomi global yang semakin cepat berubah, iklim industri yang semakin kompetitif, dan siklus bisnis yang semakin pendek.

“Pencapaian tersebut tentunya juga akan menjadi fondasi yang kuat bagi pengembangan Garuda Indonesia ke depannya, terutama dalam pelaksanaan strategi jangka pendek “Quick Wins” di tengah tantangan yang dihadapi industri penerbangan saat ini,” ujar M. Arif Wibowo.

Program “Quick Wins” dilaksanakan melalui tiga strategi utama, sebagai berikut :

  • Peningkatan “Revenue Generator”, di mana seluruh potensi yang dapat meningkatkan revenue perusahaan dimaksimalkan, antara lain melalui:
    1. Restrukturisasi jaringan penerbangan Garuda Indonesia dengan mengurangi rute-rute yang kurang menguntungkan, menunda pembukaan rute-rute baru, dan melakukan penyesuaian ke beberapa rute di Australia dan Jepang.
    2. Pengembangan rute-rute di Tiongkok di luar tiga kota besar yang telah diterbangi Garuda saat ini (Beijing, Shanghai, Guangzhou), dengan melaksanakan penerbangan-penerbangan charter ke kota-kota seperti Chengdu, Chong Qin, Ningbo, Kunming, Jinan, Harbin, Xian, Shenyang dan Chengzhou dari dan menuju Denpasar serta Manado.
    3. Pengembangan pasar ke Timur Tengah, khususnya peningkatan pasar umroh.
  • Restrukturisasi “Cost Driver”, di mana Garuda Indonesia melakukan penataan dan restrukturisasi biaya sehingga dapat dicapai efisiensi yang tinggi, tanpa mengurangi kualitas pelayanan yang diberikan. Melalui program / langkah-langkah efisiensi tersebut, Perseroan dapat mencapai penghematan sekitar USD 146,94 juta dan efisiensi dari penurunan harga minyak dunia sebesar USD 172,25 juta.
  • Kegiatan “Reprofiling" khususnya terhadap semua fasilitas pembiayaan komersial, melalui langkah dan strategi memperpanjang jatuh tempo fasilitas kredit, relaksasi beberapa terms serta meningkatkan positive cash flow perusahaan. Sebagai bagian dari strategi tersebut perusahaan telah melakukan kerjasama dengan National Bank of Abu Dhabi dan Dubai Islamic Bank, senilai USD 400 juta, serta proses akhir dengan salah satu bank regional sebesar USD 100 juta, berupa pembiayaan talangan ("bridge financing") yang merupakan bagian dari rencana pembiayaan dan pengembangan perusahaan ke depan melalui penerbitan Obligasi Sukuk International ("Global Sukuk Bond") sebesar USD 500 juta.


Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia Ari Askhara Danadiputra menambahkan, di samping upaya-upaya tersebut, untuk mengantisipasi efek dari melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, pada tahun 2015 ini Garuda Indonesia melakukan kerjasama lindung nilai melalui transaksi “Cross Currency Swap” dengan beberapa bank, atas obligasi Rupiah ke mata uang US dollar senilai total Rp 1 triliun.

Melalui pelaksanaan transaksi "Cross Currency Swap" tersebut Perseroan dapat menghindari atau mengurangi risiko melonjaknya biaya operasional jika dibayar dalam mata uang Rupiah karena pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dollar AS. Hal ini mengingat biaya operasional penerbangan seperti pembelian spare parts, maintenance serta sewa pesawat dibayarkan dalam mata uang dollar AS. Perusahaan masih melihat perkembangan pasar di mana pada saat yang tepat akan melakukan kegiatan lindung nilai dan “Cross Currency Swap” kembali terhadap leverage Rupiah-nya. Hal ini merupakan bagian dari Manajemen Risiko perusahaan yang dijalankan berdasarkan prinsip kehati-hatian.

“Selain itu, sebagai langkah antisipatif, perusahaan juga meningkatkan alokasi Fuel Hedging dari 10% tahun lalu menjadi 50% tahun 2015 ini dari total konsumsi bahan bakar pesawat sepanjang tahun 2015, hingga saat ini perusahaan telah melakukan 25% dengan cara Call Option dan forward khususnya untuk bulan-bulan tertentu seperti liburan sekolah, Lebaran dan liburan akhir tahun,” lanjutnya.

Kinerja Perusahaan Tahun 2014
Garuda Indonesia menutup tahun 2014 dengan membukukan Pendapatan Operasi (Operating Revenue) sebesar USD 3,93 miliar, meningkat 4,6 persen dibanding tahun 2013 sebesar USD 3,76 miliar. Namun demikian, Perseroan membukukan “comprehensive loss” sebesar negatif USD 338,4 juta pada tahun 2014, naik dari tahun 2013 sebesar negatif USD 5,6 juta.

Kinerja keuangan Garuda Indonesia pada tahun 2014 dipengaruhi oleh kondisi industri penerbangan -bukan saja di Indonesia, namun juga di dunia- dewasa ini sedang mengalami “turbulensi”. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar, serta harga bahan bakar yang sebelumnya sempat mencapai harga tertinggi, serta aspek regulatory yang kurang kondusif terhadap industri penerbangan -telah memberi dampak yang luar biasa terhadap kinerja perusahaan-perusahaan penerbangan internasional, termasuk Garuda Indonesia. Selain itu, kinerja keuangan Garuda Indonesia juga dipengaruhi oleh adanya “impairment loss” yang dialami perusahaan sebesar USD 113.5 juta dari proses early termination, re-evaluasi aset, serta investasi yang dilakukan perusahaan di perusahaan penerbangan Merpati Nusantara Airline dan Gapura Angkasa.

Selama tahun 2014, Garuda Indonesia Group (termasuk anak usaha di segmen LCC, Citilink) mengangkut sebanyak 29,14 juta penumpang; meningkat 16,7 persen dibanding tahun 2013 sebanyak 25 juta penumpang. Kapasitas produksi (Availability Seat Kilometer/ASK) pada tahun 2014 juga meningkat sebesar 16,3 persen menjadi 50,14 miliar, dibanding tahun 2013 sebesar 43,13 miliar.

Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan jumlah angkutan Cargo pada tahun ini menjadi sebesar 403.994 ton cargo, meningkat 16,8 persen dari tahun 2013 sebesar 345.923 ton. Selama tahun 2014, frekuensi penerbangan Garuda Indonesia (domestik dan internasional) mengalami peningkatan sebesar menjadi 228.329 penerbangan dari sebanyak 196.403 penerbangan pada tahun 2013.

Adapun tingkat ketepatan penerbangan (On Time Performance/OTP) pada tahun 2014 mencapai 88,8 persen, dibanding tahun sebelumnya sebesar 83,8 persen. Selama 2014, market share Garuda Indonesia di pasar internasional meningkat menjadi 24 persen dari sebelumnya di tahun 2013 sebesar 23,5 persen. Sementara market share penumpang domestik pada tahun 2014 sebesar 30,2 persen, naik dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu sebesar 28 persen.

Selama tahun 2014 Garuda Indonesia Group mendatangkan 35 pesawat baru terdiri dari 2 Boeing 777-300 ER, 4 Airbus 330-300, 12 Boeing 737-800 NG, 3 Bombardier CRJ-1000 NextGen, 6 ATR 72-600, dan 8 Airbus A320 untuk Citilink, sehingga total pesawat yang dioperasikan selama tahun 2014 adalah sebanyak 169 pesawat dengan rata-rata usia pesawat 4,5 tahun.



Jakarta, 20 Maret 2015
PT GARUDA INDONESIA (PERSERO) Tbk.
VP CORPORATE COMMUNICATIONS


PUJOBROTO

skyteam logo

Garuda Indonesia adalah maskapai penerbangan Indonesia pertama yang bergabung dengan SkyTeam

Selanjutnya